goresan hidup seorang biduan

Sabtu, 12 Juni 2010

Bagaimana Yahudi dikuburkan..




Mayat Yahudi
Bagaimana Mayat Yahudi diKebumikan
(Laporan ini hanya untuk Pengetahuan 'Am)
Dalam pekerjaan saya, saya terpaksa berkecimpung dan bertemu dengan segala
macam manusia dari segala macam bangsa dan ugama. Timbul pula satu
kesempatan saya berbual2 dengan seorang lelaki yang berugama Yahudi. Dia rajin
pergi ke synagogue-nya seperti kebanyakan orang kita juga rajin ke mesjid. Saya
bertanya kepadanya bagaimana mayat seorang Yahudi dikebumikan. Di bawah ini
adalah keterangannya:
Kebanyakan orang Yahudi tidak menyimpan mayatnya berhari-hari seperti mayat2
ugama Keristian,
Buddhist, Hindu, dan lain penganut ugama kafir. Ada yang menyimpan mayatnya
hanya sehari dan ada juga yang menyimpan mayatnya sampai tiga hari.
Kematian seorang Yahudi merupakan "family affair" saja dan amat jarang
diumumkan di suratkabar untuk
pengetahuan sahabat-handai atau masyarakat sekelilingnya (kecuali kalau si mati
itu adalah seorang pembesar synagogue atau pembesar negara.) Begitu juga
pengebumian mayat itu merupakan "family
affair" yang sangat private.
Bila mayat akan kebumikan, disiapkan sebuah lemari cermin yang berdiri, tidak
sebuah peti mayat
(coffin) seperti ugama2 lain. Mayat ini dibersihkan dan diberi pakaian yang bagus
dan didandankan: rambutnya disikat rapi dan dibedakkan supaya wangi baunya.
Mayat di-injek dengan obat yang mengeraskan tubuhnya. Selepas itu mayat itu diberdiri-
kan di dalam lemari cermin itu dan diikat di beberapa bagian tubuhnya
supaya tubuh mayat dapat berdiri tegak dalam lemari cermin itu. Jadi, mayat Yahudi
tidak dibaringkan dalam "coffin" seperti mayat2 ugama lain.
Di tanah perkuburan Yahudi sudah digali sebuah lobang empat persegi dengan lebar
kira2 dua kaki setengah (two and half feet square) dan dalamnya kira2 enam kaki.
(Tidak seperti kubur Islam yang biasanya (rectangle) panjangnya 6 kaki, lebarnya
sekitar 3 kaki dan dalamnya kira2 enam kaki.) Ini kerana cermin lemari yang
digunakan sebagai "peti mayat" itu akan ditanam berdiri tegak.
Waktu meng-kuburkan mayat biasanya pada waktu senja (kalau kita ?kira2 waktu
maghrib) apabila matahari hampir akan terbenam - tidak begitu terang dan tidak
pula terlalu gelap. Mayat dibawa ke tanah
perkuburan dengan "special trailer" yang dapat mengangkut lemari mayat itu
dengan keadaan "berdiri" (maksudnya tidak perlu "dibaringkan" walaupun dalam
kereta mayat. Apabila lemari mayat tiba di tanah perkuburan, lemari itu di-transfer
ke sebuah trolley (beroda dua) dengan keadaan lemari itu berdiri. (Trolley ini sama
seperti kita kadang2 melihat pekerja2 Pepsicola atau Cocacola menolak trolley
minuman dari lori masuk ke kedai.) Apabila tiba di lobang kubur, lemari cermin itu
dimasukkan ke dalam lobang "vertical" itu dengan menggunakan tali. Yang
memasukkan mayat ke dalam lobang adalah anggota keluarga saja. Setelah lemari
cermin itu dapat berdiri tegak dalam lobang, maka disendalkan tanah2 agar lemari
itu tidak memiring ke mana2 apabila lobang itu ditimbus dengan! tanah. Kerja2
mengebumikan mayat ini semuanya dilakukan dalam keadaan cahaya samar2 - tidak
terang dan tidak begitu gelap. Biasanya tidak sampai satu jam, bereslah urusan
pengebumian ini.
Yang ikut menghantar mayat ke kuburan hanya anggota keluarga. Mereka yang tidak
ada hubungan darah
dengan si mati tidak digalakkan ikut bersama. Ini agar sikap "family affair" dalam
urusan mayat dapat
terpelihara. Jadi, dalam upacara mengebumikan mayat Yahudi, tidak banyak yang
ikut ke cemetary. Biasanya tidak lebih dari 10 orang, dan tidak ada rabbi (bunyinya
"rabai" - paderi Yahudi) yang mengantarinya ke kubur. Maka tidak adalah do'a
mantera yang dibacakan.
Setelah selesai pengebumian mayat, anggota keluarga pulang ke rumah. Mereka
duduk di kursi dalam bentuk "circle" dan bertafakkur mengingatkan mayat yang di
dalam kbur dan nasibnya di dalam kubur. Biasanya tafakkur ini berlaku sepanjang
malam dari saat mayat dikebumikan sampailah hari esoknya. Mereka yang
bertafakkur tidak tidur sepanjang malam. Mereka semua duduk diam membisu
tanpa ada pembacaan mantera.
Impression: Sangkaan saya (repeat hanya "sangkaan"), kaum Yahudi sangat takut
diketahui orang apabila
seorang daripadanya mati kerana masyarakat Yahudi menjadi kurang seorang
akibat kematian itu. Kenapa
mayat Yahudi ditanam berdiri mungkin melambangkan "enggan tunduk" kepada
Tuhan Allah walaupun sudah habis hayatnya di dunia. Apakah ini satu "kesombongan
melulu" terpulanglah kepada yang ingin
men-interpretasikan.
Wallahu a'lam.
DatukYan.

Mengenal Yahudi




Mengenal Yahudi
Istilah “Yahudi (Judaism)” berasal dari kata Yahuda (Judah), salah satu dari dua belas anak
Ya’qub. Setelah kematian Sulaiman, bangsa Israel terbagi menjadi dua : Kerajaan Yahuda dan
Kerajaan Israel. Pada abad VI SM Kerajaan Israel ditaklukkan oleh Assiria dan penduduknya
diusir. Sehingga, bangsa Israel yang tersisa hanyalah yang berada di Kerajaan Yahuda. Mereka
inilah yang kemudian dikenal sebagai Yahudi.
Siapa Yang Disebut Sebagai Seorang Yahudi ?
Bagi Golongan Tradisional (Konservatif dan Orthodoks), seorang Yahudi ialah setiap orang yang
ibunya adalah seorang Yahudi (matrilineal) atau setiap orang yang telah melalui proses
konversi resmi untuk menjadi Yahudi. Bagi mereka, Yahudi sebetulnya lebih merupakan sebuah
kebangsaan daripada sebuah agama. Akan tetapi bagi Golongan Reformasi, seseorang
dianggap Yahudi jika salah satu dari kedua orangtuanya adalah Yahudi dan yang bersangkutan
menganut paham Yahudi. Sehingga seorang anak dari ayah yang Kristen dan ibu yang Yahudi,
sementara anak itu tidak menganut paham Yahudi, maka anak itu adalah Yahudi menurut
Golongan Tradisional tetapi anak itu bukan Yahudi menurut Golongan Reformasi.
Sekte-sekte Yahudi
Dahulu kala, tanah Yahudi dikuasai oleh Yunani. Setelah itu terjadilah perang selama 25 tahun
antara Yunani dan Yahudi. Selama itu, Yahudi masih satu. Tetapi usai perang, mereka terpecah
menjadi tiga : Essenes, Sadducees (Sadduqiyah), Pharisees (Fariisiyyah).
· Essenes merupakan sekte yang asketis, mistis, sangat ketat, dan memisahkan diri dari
masyarakat.
· Sadduqiyah merupakan sekte yang mengadopsi unsur-unsur Hellenik kedalam ajaran
mereka. Mereka hanya mempercayai Taurat Tertulis dan tidak percaya pada Taurat
Lisan. Mereka juga mengingkari Kebangkitan, Hisab, Surga, Neraka, Malaikat, dan
kedatangan Nabi Isa.
· Adapun Farisiyyah mempercayai baik Taurat Tertulis maupun Taurat Lisan, dan bahwa
keduanya bisa direinterpretasi oleh para rabbi. Para rabbi mereka tidak boleh menikah.
· Setelah Judea dikuasai oleh Roma dan timbul konflik dengan mereka, muncullah sekte
keempat yaitu Zealots. Mereka menyerukan perang terhadap Roma dan bahwa bunuh
diri lebih baik daripada ditawan oleh Roma. Ensiklopedia WAMY menyebutnya sebagai
Muta’asshibun (Fanatis) dan Saffaakiin (Yang Gemar Berperang dan Menumpahkan
Darah).
Dalam perjalanannya, diantara sekte-sekte diatas, hanya Farisiyah saja yang bisa tetap eksis.
Pada abad IX, muncul sekte baru yang bernama Al-Qurraa-uun (Karaites, Literalis). Mereka
tidak mempercayai Taurat Lisan dan juga interpretasi para rabbi atas Taurat Tertulis. Sehingga,
mereka berbeda dalam banyak hal dengan sekte yang menganggap absah interpretasi para
rabbi (sering diistilahkan dengan Golongan Rabbaniyyah). Diantara perbedaan itu ialah
mengenai bebarapa aturan Hari Sabbat : Qurra-iyyah berpendapat bahwa selama Hari Sabbat
tidak boleh menyalakan api di rumah (jadi rumah dibiarkan gelap) sedangkan Rabbaniyah
memperbolehkan. Demikian pula Qurra-iyyah berpendapat bahwa selama Hari Sabbat tidak
boleh berhubungan seks. Sebaliknya menurut Rabbaniyah Hari Sabbat adalah hari yang paling
baik dan paling nikmat untuk melakukan hubungan seksual. Sekarang ini, Qurraiyah
merupakan golongan yang sangat minoritas.
Disamping keempat sekte diatas, Ensiklopedia WAMY juga menyebut sekte-sekte yang lain :
Sekte Para Penulis dan Penghapus (Al-Katabah wa Al-Nassaakh), Saamiriyyuun, dan Sabaiyyah.
Yahudi di Amerika Serikat
5 dari 15 juta Yahudi saat ini tinggal di Amerika Serikat. Disana terdapat tiga sekte besar :
Sekte Reformasi, Sekte Konservatif, dan Sekte Orthodoks. Disamping itu terdapat pula satu
sekte kecil yaitu Rekonstruksionis. Sekte Konservatif dan Orthodox dimasukkan kedalam Sekte
Tradisional. Adapun sekte Reformasi dan Rekonstruksionis dimasukkan kedalam sekte liberalis
atau modern.
· Sekte Othodox percaya bahwa Allah telah menurunkan seluruh Taurat (Tertulis dan
Lisan) kepada Musa di bukit Sinai.
· Sekte Reformasi tidak percaya bahwa Taurat ditulis oleh Allah. 42 % dari Yahudi
Amerika adalah sekte Reformasi.
· Sekte Konservatif menengahi ketegangan antara Sekte Orthodoks dan Sekte
Reformasi. Mereka percaya bahwa Taurat dari Allah, tetapi mengandung komponen
manusia.
· Sekte Rekonstruksionis berpendapat bahwa Yahudi merupakan suatu peradaban
keagamaan yang berkembang (evolving). Mereka tidak percaya terhadap Tuhan
Personal dan juga tidak percaya bahwa Tuhan telah memilih kaum Yahudi.
Yahudi di Israel
5 juta Yahudi tinggal di Israel. Satu-satunya sekte Yahudi yang resmi dan diakui di Israel
adalah Sekte Orthodoks.
Kitab-kitab Suci Mereka
1.Perjanjian Lama, merupakan kitab suci bagi Yahudi dan juga Nasrani. Perjanjian Lama
terbagi dua :
1.1.Taurat (Tertulis, Tanakh)
1.2.Kitab-kitab (Asfaar) Para Nabi (NEVI’IM), terbagi atas dua :
1.2.1.Asfaar Nabi-nabi Zaman Dahulu.
1.2.2.Asfaar Nabi-nabi Zaman Belakangan.
Disamping itu terdapat pula Kitaabaat (The Writings)
2.Ester dan Yahudet
3.Talmud (Taurat Lisan) : merupakan tafsir atau penjelasan atas Taurat Tertulis.
Keyakinan Yahudi tentang Tempat Suci Mereka
Pemeluk Yahudi meyakini di tempat berdirinya Mesjid Umar inilah di masa lalu berdiri Solomon
Temple atau Kuil Sulaiman, Bait Allah yang didirikan Raja Solomon di zaman keemasan
Kerajaan Israel, sekitar tiga ribu tahun yang lalu. Bangunan itu menurut mereka, dibangun di
tempat Abraham, nenek-moyang bangsa Israel hendak menyembelih putranya Ishak menuruti
perintah Tuhan.
Dinding sebelah barat kompleks Al Haram Al Sharief dianggap sebagai sisa peninggalan
terakhir kuil Sulaiman yang sudah musnah itu. Ke tempat inilah para pemeluk Yahudi dari
seluruh dunia datang berdoa dan meratap berhiba-hiba pada hari-hari tertentu dalam
mengenang kembali penghancuran terhadap kuil mereka. Sebab itulah dinding ini disebut
Dinding Ratapan.
Zionisme
Zionisme adalah gerakan yang bertujuan untuk mengembalikan kaum Yahudi ke tanah
kelahiran mereka dan juga mengembalikan kedaulatan Yahudi diatas Tanah Raya Israel.
Seluruh komponen Yahudi, baik kiri ataupun kanan, relijius ataupun sekuler, bahu membahu
dan bersatu dalam gerakan ini, untuk mewujudkan tujuan gerakan ini.
Theodor Herzl, bapak pendiri Zionisme, pernah mengusulkan Uganda, dan rencananya ini
dikenal dengan nama ‘Uganda Plan’. Kaum Zionis kemudian menjatuhkan pilihan mereka pada
Palestina. Alasannya adalah Palestina dianggap sebagai ‘tanah air bersejarah bangsa Yahudi’,
dan bukan karena nilai relijius wilayah tersebut bagi mereka.
Pada Konferensi Biltmore pada tahun 1942, para pendukung Zionisme telah bersepakat dengan
komponen-komponen Yahudi yang awalnya menentang Zionisme, bahwa mereka semuanya
mendukung berdirinya Jewish Commonwealth (Negara Israel Raya).
Pada Perang Dunia Pertama, Yerusalem direbut tentara Inggris dari tangan Turki. Tahun 1948
imigran Yahudi dari Eropa memproklamasikan berdirinya negara Israel yang disusul serbuan
negara-negara Arab. Dalam perang itu Israel merebut pinggiran barat kota Yerusalem, sedang
Yerusalem Timur dimana kompleks Al Haram Al Sharief berada direbut pasukan elit Yordania,
Legiun Arab yang dipimpin para perwira Inggris. Tahun 1967, perang Arab-Israel berulang,
yang kali ini dimenangkan secara mutlak oleh Israel. Seluruh Palestina dan kota Yerusalem
termasuk kompleks Al Haram Al Sharief direbut tentara Israel.

Senin, 07 Juni 2010

Terapi mata minus




Mengobati mata minus, plus dan
silindris dengan cara alami
POSTED BY SHUN ON JUL-6-2008
Tulisan ini saya kutip dari buku Roberto Kaplan yang berjudul No Glasses, yang di
Indonesia diterbitkan oleh PT. Bhuana Ilmu Populer, terbitan tahun 200?
Sebelum kita memulai untuk mempelajari cara-cara menyembuhkan mata
minus(myopia), plus (presbyopia) dan silindris (astigmatism), perlu kita ketahui
beberapa penyebab utama kenapa kemampuan penglihatan mata (dalam buku ini
disebut sebagai vision-fitness) kita bisa menurun, antara lain adalah (tidak
berdasarkan urutan):
1. Pola makan yang tidak sehat, seperti asupan karbohidrat sederhana yang
berlebihan dan makanan yang terlalu diolah, serta makan ketika merasa stress
2. Bersekolah
3. Kebiasaan membaca yang salah
4. Polutan di udara, air dan makanan (bahan kimia, pengawet dll)
5. Konsumsi gula yang berlebihan
6. Kurang terkena sinar matahari
7. Tempat kerja yang buruk
8. Sekolah dan olahraga yang terlalu berorientasi pada keberhasilan
9. Tradisi keluarga
10. Perceraian
11. Sering berpindah-pindah
12. Terlalu banyak menonton televisi
13. Memakai monitor komputer yang buruk
14. Pola perilaku penyangkalan dan kecanduan
Beberapa hal lain yang perlu kita perhatikan
1. Kondisi mental sangat berpengaruh pada kesehatan pengelihatan mata (vision
fitness)
2. Memakai kacamata yang sesuai dengan ukuran minus/plus kita, justru akan
membuat kita semakin tergantung dengan kacamata dan tidak ada kesempatan
untuk memperbaiki penglihatan kita. Dalam buku ini disarankan, untuk
memakai kacamata yang setingkat lebih rendah (dengan kemampuan
penglihatan sekitar 87,5%) sehingga mata berusaha untuk memperbaiki
fokusnya, dan pada akhirnya bisa mengurangi ketergantungan pada kacamata.
3. Kondisi mata yang terkadang terasa capek, perih, buram dsb, adalah suatu
pertanda/pesan dari mata, kalau mata sudah terlalu capek, maka dari itu jika
kita mengalami hal-hal tersebut, segera istirahatkan mata anda untuk beberapa
saat
Latihan Otot Mata
dr wikipedia indonesia
Bagian-bagian mata secara sederhana terbagi atas;
1. Kornea
Lapisan terluar dari mata, yang melengkung dan mengkilat. Bagian ini
menutupi iris (bagian berpigmen). Kornea mengkontrol 80% daya pembiasan
mata. Kornea mendapat nutrisi dari air mata, yang juga berfungsi sebagai
pelumas. Air mata didistribusikan keseluruh permukaan kornea ketika kita
berkedip.
2. Iris dan Pupil
Iris adalah selaput berwarna diantara kornea dan lensa. Otot iris dirangsang
oleh ada atau tidaknya sinar. Jika sinar terlalu banyak, ototnya berkontraksi
sehingga pupil (celah hitam dibagian tengah iris) mengecil. Di tempat gelap,
otot-ototnya mengendur dan pupil membesar. Dengan demikian, iris mengatur
jumlah sinar yang masuk ke mata.
3. Lensa Mata dan Otot Ciliar
Lensa mata adalah struktur cembung yang transparan, yang berguna untuk
memfokuskan cahaya yang masuk melalui pupil agar terbentuk gambar pada
retina. Otot ciliar mengatur focus cahaya dengan mengubah bentuk lensa. Otot
“pengatur focus” tersebut besifat involuntary, yaitu otot yang kerjanya tidak
dapat anda control secara sadar. Artinya, jika anda terlalu focus, otot ciliar
menjadi kejang dan lembam, yang mengakibatkan penglihatan anda kabur.
Anda juga akan merasakan terjadinya kelambatan dalam mengatur focus.
Stimulasi pada otot ciliar akan menambah kemampuan focus pada lensa
sehingga anda dapat berfokus pada detail kecil dalam jarak yang lebih dekat,
seperti ketika anda membaca, menjahit, merajut, bekerja dengan computer,
dan mecari nomor di buku telepon.
Berikut beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk membantu memelihara
kebugaran focus:
o Letakan ibu jari anda sekitar 15 cm didepan mata, berfokuslah pada
ibu jari, lalu lihat kejauhan, kemudian kembali focus ke ibu jari.
o Ketika melakukan aktivitas yang tidak memerlukan focus ke satu
benda secara terus menerus, pindahkan lah focus anda ke berbagai
objek, jauh dan dekat, secara bergantian, misal sewaktu duduk di
depan computer, pandanglah kibord, monitor, benda-benda diatas
meja, keluar ke jendela, kembali ke kibord, dst.
4. Retina dan Fovea
Retina adalah selaput yang sensifit terhadao cahaya, melapisi bagian belakang
bola mata, energi cahaya yang menyentuh retina diubah menjadi insyarat
kimiawi yang membawa informasi ke otak melalui saraf mata. Retina
berfungsi mendeteksi gerakan di sekitar penglihatan dan melihat di malam
hari.
Persepsi visual paling tajam terjadi di daerah dekat pusat retina yang disebut
fovea centralis. Ketika semua berkas cahaya terfokus secara tepat pada fovea,
anda melihat dengan ketajaman penuh.
Anda harus berhati-hati untk tidak membuat mata terlalu tegang untuk melihat
dengan jelas, hindari menatap ke suatu tempat dalam waktu yang sangat lama.
Biarkan mata anda menari dan bergerak. Membelalak pada sesuatu
menimbulan stimulasi berlebihan pada fovea dan dapat menyebabkan
kekejangan otot focus yang akhirnya dapat mengurangi efektivitas fungsi
retina sehingga anda kehilangan objek disekitar penglihatan anda.
5. Otot-otot luar mata
Setiap mata memiliki 6 otot yang mengelilingi bola mata. Mata dapat
bergerak ke kanan, ke kiri, bawah, atas, tengah, samping, selalu parallel satu
sama lain. Otot-otot ini melekas pada sclera (bagian bola mata yang berwarna
putih). Kemampuan anda mengkoordinasi gerakan otot-otot tersebut sangat
berpengaruh dalam menentukan tingkat vision fitness anda.
Latihan vision fitness untuk bagian-bagian tertentu pada mata.
1. Kornea: kedipkan mata sekali setiap tiga detik
2. Otot iris/pupil: hadapkan mata tertutup ke sinar matahari, dan kedipkan
(dalam keadaan tertutup)
3. Otot ciliar/lensa mata: sambil bernafas berfokus kearah dekat/jauh
4. Retina/fovea: jangan menatap terlalu lama, sering2 gerakanlah mata
5. Otot-otot mata: latihan meregangkan otot mata (menggerakan mata ke atas,
kebawah, samping kanan dan kiri)
6. Keseluruhan mata (relaksasi) menutup mata dengan kedua tangan (palming)
7. Kebugaran mata secara keseluruhan: sewaktu latihan, bayangkanlah bagian2
mata.
Beberapa latihan untuk meningkatkan Penglihatan
1. Zooming, adalah latihan melihat/focus dari benda yang jauh ke benda yang
dekat, secara bergantian. Misal dengan melihat pensil dengan jarak 15 cm
didepan mata dengan objek lain yang jaraknya lebih jauh, misal 4 meter atau
lebih.
2. Palming, adalah menutup mata dengan kedua telapak tangan. Gosok kedua
tangan dengan lembut sampai terasa hangat, kemudian letakkan telapak
tangan pada mata dalam kondisi terpejam, jangan tekan bola mata, tapi
letakan dengan halus pada tulang-tulang sekitar mata.
3. Latihan dengan Kartu test mata yang jarahnya berjauhan.
4. Soft focus, sama dengan zooming, hanya saja, selama focus mata tidak boleh
berkedip selama 5-25 detik, dan mata tidak terlalu focus, hanya melihat secara
santai.
5. Menguaplah dengan lebar, sampai anda benar-benar merasa rileks.
6. Dengan bola berayun, coba untuk focus ke bola yang bergerak karena
ayunan. Atau bisa diganti dengan bola pingpong/tennis yang sedang
dimainkan, atau alternative lain yang serupa.
7. Pencahayaan, dengan mata tertutup, pandanglah matahari, atau lampu yang
cukup terang, sampai mata anda terasa hangat.
8. Latihan peregangan otot mata, gerakan mata anda kebawah, keatas, tengah
samping.
9. Memijat bagian-bagian kepala yang mempengaruhi mata; bagian bawah
alis, pangkal hidung yang diapit oleh 2 mata, 2 sisi kening di ujung alis bagian
luar, titik bawah mata (tulang sekitar mata), bahu dekat tengkuk, 2 urat leher
di bagian tengkuk.
10. dll, lebih lengkap silakan baca bukunya ya..
Tambahan
1. Sering-seringlah berjemur bawah dimatahari
2. Sering-seringlah melihat warna-warna alami di luar ruangan
3. Makanan yang tidak dianjurkan selama masa latihan:
1. Minuman ber alcohol
2. Makanan atau minuman yang
mengandung kafein
3. Telor
4. Gorengan
5. Buah-buahan
6. Es krim
7. Keju
8. Rokok
9. Kopi
10. Susu
11. Daging merah
12. Obat-obatan (Selain yang
dianjurkan dokter)
13. Makanan yang mengandung
gula.
4. Olah raga yang dianjurkan:
1. Aerobic
2. Bersepeda
3. Dansa cepat
4. Jogging
5. Skating
6. Jalan kaki
7. Berenang
8. Tennis
9. Selancar
10. Yoga
11. Taichi
5. Menggunakan Pinhole glasses bisa sangat membantu menambah ketajaman
penglihatan anda. Barang ini cukup murah dipasaran, seorang teman
membelinya di Jepang dengan harga hanya 100 Yen (atau sekitar 8.000
rupiah), tetapi saya tidak tahu berapa harganya di Indonesia (saya kebetulan
membeli via internet dan harnya nya adalah 185.000, dan saya agak merasa
tertipu
Latihan dengan pinhole glases akan coba saya tulis lagi nanti..

Selasa, 11 Mei 2010

Hak-hak Wanita dalam Islam




Sesungguhnya Islam menempatkan wanita pada posisi yang tinggi dan sejajar de-ngan pria. Namun dalam beberapa hal ada yang harus berbeda, karena pria dan wanita hakikatnya adalah makhluk yang berbeda. Kesalahan dalam memahami ajaran yang benar inilah yang menjadikan Islam kerap dituding sebagai agama yang menempatkan wanita sebagai “warga kelas dua.” Benarkah? Simak kupasannya!

Suatu hal yang tidak kita sangsikan bahwa Islam demikian memuliakan wanita, dari semula makhluk yang tiada berharga di hadapan “peradaban manusia”, diinjak-injak kehormatan dan harga dirinya, kemudian diangkat oleh Islam ditempatkan pada tempat yang semestinya dijaga, dihargai, dan dimuliakan. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan banyak kebaikan kepada hamba-hamba-Nya.
Keterangan ringkas yang akan dibawakan, sedikitnya akan memberikan gambaran bagaimana Islam menjaga hak-hak kaum wanita, sejak mereka dilahirkan ke muka bumi, dibesarkan di tengah keluarganya sampai dewasa beralih ke perwalian sang suami.

1. Pada Masa Kanak-kanak
Di masa jahiliah tersebar di kalangan bangsa Arab khususnya, kebiasaan menguburkan anak perempuan hidup-hidup karena keengganan mereka memelihara anak perempuan. Lalu datanglah Islam mengharamkan perbuatan tersebut dan menuntun manusia untuk berbuat baik kepada anak perempuan serta menjaganya dengan baik. Ganjaran yang besar pun dijanjikan bagi yang mau melaksanakannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan anjuran dalam sabda-Nya:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ (وَضَمَّ أَصَابِعَهُ)

“Siapa yang memelihara dua anak perempuan hingga keduanya mencapai usia baligh maka orang tersebut akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku dan dia1 seperti dua jari ini.” Beliau menggabungkan jari-jemarinya. (HR. Muslim no. 6638 dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)
‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkisah: “Datang ke rumahku seorang wanita peminta-minta beserta dua putrinya. Namun aku tidak memiliki apa-apa yang dapat kusedekahkan kepada mereka kecuali hanya sebutir kurma. Wanita tersebut menerima kurma pemberianku lalu dibaginya untuk kedua putrinya, sementara ia sendiri tidak memakannya. Kemudian wanita itu berdiri dan keluar dari rumahku. Tak berapa lama masuklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kuceritakan hal tersebut kepada beliau. Usai mendengar penuturanku beliau bersabda:

مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya lalu ia berbuat baik kepada mereka maka mereka akan menjadi penghalang/penutup baginya dari api neraka.” (HR. ِAl-Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 6636)
Kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu dalam penjelasan atas hadits di atas: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dengan ujian (ibtila`), karena manusia biasanya tidak menyukai anak perempuan (lebih memilih anak lelaki), sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kebiasaan orang-orang jahiliah:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِاْلأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيْمٌ. يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوْءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُوْنٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلاَ ساَءَ مَا يَحْكُمُوْنَ

“Apabila salah seorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuan, menjadi merah padamlah wajahnya dalam keadaan ia menahan amarah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya hidup-hidup di dalam tanah? Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An-Nahl: 58-59)
Hadits-hadits yang telah disebutkan di atas menunjukkan keutamaan berbuat baik kepada anak perempuan, memberikan nafkah kepada mereka dan bersabar memelihara mereka. (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16/395)
Islam mewajibkan kepada seorang ayah untuk menjaga anak perempuannya, memberi nafkah kepadanya sampai ia menikah dan memberikan kepadanya bagian dari harta warisan.

2. Dalam masalah pernikahan
Wanita diberi hak untuk menentukan pendamping hidupnya dan diperkenankan menolak calon suami yang diajukan orang tua atau kerabatnya bila tidak menyukainya. Beberapa hadits di bawah ini menjadi bukti:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُنْكَحُ اْلأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ إِذْنُهَا؟ قَالَ: أَنْ تَسْكُتَ

“Tidak boleh seorang janda dinikahkan hingga ia diajak musyawarah (dimintai pendapatnya), dan tidak boleh seorang gadis dinikahkan hingga diminta izinnya.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah izinnya seorang gadis?” “Izinnya adalah dengan ia diam”, jawab Rasulullah. (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 3458 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ الْبِكْرَ تَسْتَحِي. قاَلَ: رِضَاهَا صَمْتُهَا

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang gadis itu malu (untuk menjawab bila dimintai izinnya dalam masalah pernikahan).” Beliau menjelaskan, “Tanda ridhanya gadis itu (untuk dinikahkan) adalah diamnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5137)
Khansa` bintu Khidam Al-Anshariyyah radhiyallahu 'anha mengabarkan, ayahnya menikahkannya dengan seorang lelaki ketika ia menjanda. Namun ia menolak pernikahan tersebut. Ia adukan perkaranya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga akhirnya beliau membatalkan pernikahannya. (HR. Al-Bukhari no. 5138)
Hadits di atas diberi judul oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam kitab Shahih-nya: Bab Apabila seseorang menikahkan putrinya sementara putrinya tidak suka maka pernikahan itu tertolak.
Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash-Shiddiq menceritakan, salah seorang putri Ja’far2 merasa khawatir walinya akan menikahkannya secara paksa. Maka ia mengutus orang untuk mengadukan hal tersebut kepada dua syaikh dari kalangan Anshar, ‘Abdurrahman dan Majma’, keduanya adalah putra Yazid bin Jariyah. Keduanya berkata, “Janganlah kalian khawatir, karena ketika Khansa` bintu Khidam dinikahkan ayahnya dalam keadaan ia tidak suka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak pernikahan tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 6969)
Buraidah ibnul Hushaib radhiyallahu 'anhu mengabarkan:

جَاءَتْ فَتَاةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقاَلَتْ: إِنَّ أَبِي زَوَّجَنِي ابْنَ أَخِيْهِ لِيَرْفَعَ بِي خَسِيْسَتَهُ. قَالَ: فَجَعَلَ اْلأَمْرَ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ: قَدْ أَجَزْتُ مَا صَنَعَ أَبِي، وَلَكِنْ أَرَدْتُ أَنْ تَعْلَمَ النِّسَاءُ أَنْ لَيْسَ لِلآبَاءِ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ

“Pernah datang seorang wanita muda menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mengadu, ‘Ayahku menikahkanku dengan anak saudaranya untuk menghilangkan kehinaan yang ada padanya dengan pernikahanku tersebut’, ujarnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan keputusan padanya (apakah meneruskan pernikahan tersebut atau membatalkannya). Si wanita berkata, ‘Aku membolehkan ayah untuk melakukannya. Hanya saja aku ingin para wanita tahu bahwa ayah mereka tidak memiliki urusan sedikitpun dalam memutuskan perkara seperti ini’.” (HR. Ibnu Majah no. 1874, kata Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu dalam Al-Jami’ush Shahih (3/64), “Hadits ini shahih menurut syarat Al-Imam Muslim.”)
Islam memberikan hak seperti ini kepada wanita karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan wanita sebagai penenang bagi suaminya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kehidupan suami istri ditegakkan di atas mawaddah wa rahmah. Maka bagaimana akan terwujud makna yang tinggi ini apabila seorang gadis diambil secara paksa sebagai istri sementara ia dalam keadaan tidak suka? Lalu bila demikian keadaannya, sampai kapan pernikahan itu akan bertahan dengan tenang dan tenteram?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menyatakan: “Tidak boleh seorang pun menikahkan seorang wanita kecuali terlebih dahulu meminta izinnya sebagaimana hal ini diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila si wanita tidak suka, maka ia tidak boleh dipaksa untuk menikah. Dikecualikan dalam hal ini, bila si wanita masih kecil, karena boleh bagi ayahnya menikahkan gadis kecilnya tanpa meminta izinnya. Adapun wanita yang telah berstatus janda dan sudah baligh maka tidak boleh menikahkannya tanpa izinnya, sama saja baik yang menikahkannya itu ayahnya atau yang lainnya. Demikian menurut kesepakatan kaum muslimin.”
Ibnu Taimiyyah rahimahullahu melanjutkan: “Ulama berbeda pendapat tentang izin gadis yang akan dinikahkan, apakah izinnya itu wajib hukumnya atau mustahab (sunnah). Yang benar dalam hal ini adalah izin tersebut wajib. Dan wajib bagi wali si wanita untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam memilih lelaki yang akan ia nikahkan dengan si wanita, dan hendaknya si wali melihat apakah calon suami si wanita tersebut sekufu atau tidak. Karena pernikahan itu untuk kemaslahatan si wanita, bukan untuk kemaslahatan pribadi si wali.” (Majmu’ Fatawa, 32/39-40)
Islam menetapkan kepada seorang lelaki yang ingin menikahi seorang wanita agar memberikan mahar pernikahan kepada si wanita. Dan mahar itu nantinya adalah hak si wanita, tidak boleh diambil sedikitpun kecuali dengan keridhaannya.

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْئًا مَرِيْئًا

“Berikanlah mahar kepada para wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian dengan senang hati sebagian dari mahar tersebut, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (An-Nisa`: 4)
Al-Imam Al-Qurthubi Subhanahu wa Ta’ala berkata, “Ayat ini menunjukkan wajibnya pemberian mahar kepada wanita yang dinikahi. Ulama menyepakati hal ini tanpa ada perbedaan pendapat, kecuali riwayat sebagian ahlul ilmi dari penduduk Irak yang menyatakan bila seorang tuan menikahkan budak laki-lakinya dengan budak wanitanya maka tidak wajib adanya mahar. Namun pendapat ini tidak dianggap.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 5/17)

3. Sebagai Seorang Ibu
Islam memuliakan wanita semasa kecilnya, ketika remajanya dan saat ia menjadi seorang ibu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan seorang anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, ayah dan ibu. Allah Subhanahu wa Ta’ala titahkan hal ini dalam Tanzil-Nya setelah mewajibkan ibadah hanya kepada-Nya:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيْمًا. وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيْرًا

“Rabbmu telah menetapkan agar janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada-Nya dan hendaklah kalian berbuat baik terhadap kedua orangtua. Apabila salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya menginjak usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan jangan membentak keduanya namun ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang, ucapkanlah doa, “Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka telah memelihara dan mendidikku sewaktu kecil.” (Al-Isra`: 23-24)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَوَصَّيْنَا اْلإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاَثُوْنَ شَهْرًا

“Dan Kami telah mewasiatkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandung sampai menyapihnya adalah tigapuluh bulan…” (Al-Ahqaf: 15)
Ketika shahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا. قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ...

“Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat pada waktunya.” “Kemudian apa setelah itu?” tanya ‘Abdullah lagi. Kata beliau, “Kemudian birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua)….” (HR. Al-Bukhari no. 504 dan Muslim no. 248)
Kata Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu -seorang shahabat Rasul yang sangat berbakti kepada ibundanya-, “Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوْكَ

“Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Ibumu,” jawab beliau. Kembali orang itu bertanya, “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanya orang itu lagi. “Kemudian ayahmu,” jawab Rasulullah. (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447)
Hadits di atas menunjukkan pada kita bahwa hak ibu lebih tinggi daripada hak ayah dalam menerima perbuatan baik dari anaknya. Hal itu disebabkan seorang ibulah yang merasakan kepayahan mengandung, melahirkan, dan menyusui. Ibulah yang bersendiri merasakan dan menanggung ketiga perkara tersebut, kemudian nanti dalam hal mendidik baru seorang ayah ikut andil di dalamnya. Demikian dinyatakan Ibnu Baththal rahimahullahu sebagaimana dinukil oleh Al-Hafidz rahimahullahu. (Fathul Bari, 10/493)
Islam mengharamkan seorang anak berbuat durhaka kepada ibunya sebagaimana ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau:

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ اْلأُمَّهَاتِ...

“Sesungguhnya Allah mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada para ibu…” (HR. Al-Bukhari no. 5975 dan Muslim no. 593)
Al-Hafizh rahimahullahu menerangkan, “Dikhususkan penyebutan para ibu dalam hadits ini karena perbuatan durhaka kepada mereka lebih cepat terjadi daripada perbuatan durhaka kepada ayah disebabkan kelemahan mereka sebagai wanita. Dan juga untuk memberikan peringatan bahwa berbuat baik kepada seorang ibu dengan memberikan kelembutan, kasih sayang dan semisalnya lebih didahulukan daripada kepada ayah.” (Fathul Bari, 5/86)
Sampai pun seorang ibu yang masih musyrik ataupun kafir, tetap diwajibkan seorang anak berbuat baik kepadanya. Hal ini ditunjukkan dalam hadits Asma` bintu Abi Bakr radhiyallahu 'anha. Ia berkisah: “Ibuku yang masih musyrik datang mengunjungiku bertepatan saat terjalinnya perjanjian antara Quraisy dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ibuku datang berkunjung dan memintaku untuk berbuat baik kepadanya. Apakah aku boleh menyambung hubungan dengannya?” Beliau menjawab, “Ya, sambunglah hubungan dengan ibumu.” (HR. Al-Bukhari no. 5979)

4. Sebagai Istri
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan seorang suami agar bergaul dengan istrinya dengan cara yang baik.

وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ

“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik.” (An-Nisa`: 19)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata, “Ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ meliputi pergaulan dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Karena itu, sepantasnya seorang suami mempergauli istrinya dengan cara yang ma’ruf, menemani, dan menyertai (hari-hari bersamanya) dengan baik, menahan gangguan terhadapnya (tidak menyakitinya), mencurahkan kebaikan dan memperbagus hubungan dengannya. Termasuk dalam hal ini pemberian nafkah, pakaian, dan semisalnya. Dan tentunya pemenuhannya berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan.” (Taisir Al-Karimirir Rahman, hal. 172)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para suami:

لاَ تَضْرِبُوا إِمَاءَ اللهِ

“Janganlah kalian memukul hamba-hamba perempuan Allah.”
‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu 'anhu datang mengadu, “Wahai Rasulullah, para istri berbuat durhaka kepada suami-suami mereka.” Mendengar hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan untuk memukul istri bila berbuat durhaka. Selang beberapa waktu datanglah para wanita dalam jumlah yang banyak menemui istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengadukan perbuatan suami mereka. Mendengar pengaduan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ أُولَئِكَ بِخِيَارِكُمْ

“Mereka itu bukanlah orang yang terbaik di antara kalian.” (HR. Abu Dawud no. 2145, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud)
Beliau juga pernah bersabda:

أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنَسَائِهِمْ

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. Ahmad 2/527, At-Tirmidzi no. 1172. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/336-337)
Banyak hak yang diberikan Islam kepada istri, seperti suami dituntut untuk bergaul dengan baik terhadap istrinya, ia berhak memperoleh nafkah, pengajaran, penjagaan dan perlindungan, yang ini semua tidak didapatkan oleh para istri di luar agama Islam.
Bila sudah demikian penjagaan Islam terhadap hak wanita dan pemuliaan Islam terhadap kaum wanita; lalu apa lagi yang ingin diteriakkan oleh kalangan feminis yang katanya memperjuangkan hak wanita, padahal sebenarnya ingin mencampakkan wanita kembali ke lembah kehinaan, terpuruk dan terinjak-injak?
Wallahul musta’an.

Minggu, 09 Mei 2010

Jihad dan Hukum Perang dalam Islam



Jihad berarti perjuangan atas nama Allah SWT. Jihad tidak selalu berarti perang fisik. Dakwah damai dalam menyerukan yang ma’ruf dan kebenaran Allah, atau memperjuangkan yang hak dan mengutuk kezhaliman (seperti memerangi penindas dan membantu pihak yang tertindas, walaupun mereka kaum NonMuslim) juga termasuk bagian dari Jihad.

Saya pun sekarang ini sedang berjihad dengan mempelihara dan mengurusi website saya, karena ini merupakan sarana untuk berdakwah. Dan karena ini sebagai sebuah sarana, oleh karenany website ini pun bisa digunakan untuk menegakan keadilan dan mengutuk kezhaliman.

Islam bukanlah agama pedang dan jahat. Disaat Allah Ta’ala menurunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad saw, beliau menjadi Rasulullah, dan harus menyebarkan Islam kepada sekitar 365 suku-suku Musrykin disemenanjung Arab (Baca; Islam amongs Pagans & Its Monotheistic Scripture). Suku-suku tersebut menunjukkan sikap permusuhan terhadap kaum Muslim, dan telah melakukan sejumlah peperangan terhadap kaum Muslim.

Kemudian, disaat Islam menjadi agama dari Negara yang kita kenal sekarang sebagai Saudi Arabia, dan hampir seluruh dari 365 suku Musrykin telah memeluk Islam, Kaum Muslim masih harus menghadapi tantangan lain yang berbeda.

Ancaman Nuklir Uni Soviet dan Amerika Serikat dimasa sekarang adalah Kekaisaran Romawi dan Persian Sasanid dimasa silam. Jika anda mengetahui geografi dan sejarah cukup baik, maka kamu pasti tahu bahwa saat itu kaum Muslim terjebak diantara dua kekuatan besar itu.

Sikap permusuhan dan sejumlah peperangan dari kedua kekaisaran tersebut ditunjukkan kepada kaum Muslim. Seperti contoh, disaat nabi saw mengirimkan utusan kepada “Kisrah”, Kaisar Persia, untuk memperkenalkan Islam padanya, namun Kisrah memperintahkan agar utusan tersebut di hukum mati.

Dimasa itu, juga dimasa sekarang, tindakan tersebut dianggap sebagai tindakan pengecut. Orang-orang Persialah yang menunjukkan permusuhan terhadap Muslim dan memproklamirkan banyak perang terhadap Islam terlebih dahulu.

Kekaisaran Byzantin Romawi juga tidak jauh berbeda. Sebuah contoh, diantara sejumlah peperangan yang mereka lancarkan kepada Muslim dikarenakan mereka melihat agama Islam sebagai ancaman bagi agamanya di wilayah Timur Tengah, raja “Herkules”, mengirimkan sekitar 100.000 tentara menuju “Madinah” untuk memusnahkan Islam untuk selamanya.

Saat itu, kekuatan umat Muslim belum terlalu stabil, dan mereka hanya mengirim sekitar 3.000 tentara untuk mengusir tentara Kristen Romawi dari Madinah. Perang tersebut dinamai “Perang Mu’ta” dan terjadi di wilayah Mu’ta, Yordania.

Rencana yang ditetapkan adalah menghadang Kristen Romawi jauh diluar kota Madinah, sejauh yang mereka bisa. Tentara yang hanya berjumlah 3.000 personil berhasil bertahan selama beberapa hari menghadapi 100.000 tentara Romawi yang kemudian mundur dan menuju Yordania selatan. Dan tentara Romawi akhirnya menyimpang dari Madinah dan pasukan kecil Muslim berhasil melarikan diri melintasi pegunungan. Namun begitu lebih dari setengah jumlah pasukan kaum Muslim gugur dalam operasi tersebut.

Maksud dari artikel ini adalah Islam tidak disebarkan dengan pedang. Perang-perang tersebut dibebankan kepada kaum Muslim. Dan kaum Muslim tidak memulainya!

Berkenaan dengan masalah Jihad dan memerangi musuh, Allah Ta’ala Membuat pemisahan jelas didalam al-Quran sikap yang perlu diambil dalam menghadapi nonMuslim yang tidak memerangi, dan sikap terhadap nonMuslim yang memerangi:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (al-Quran, 2:190)“

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi. (al-Quran, 5:32)“

“ Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, (The Noble Quran, 25:68-69)“

“ Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al-Quran, 8:61)“

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” (The Noble Quran, 5:28)“

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (al-Quran, 60:8)“

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (The Noble Quran 2:193)“

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al- Quran, 2:256)“

“ Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. (al- Quran, 18:29)“

“ Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (al-Quran, 10:99)“

“Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (The Noble Quran, 24:54)“

Alasan Jihad dalam al-Quran:

Ayat-ayat Jihad didalam al-Quran hanya untuk waktu tertentu dan kondisi dan tempat. Mereka tidak berlaku untuk segala waktu dan bagi setiap orang. Saya sebagai seorang Muslim, tidak begitu saja dapat membunuh anda yang nonMuslim, hanya karena kamu bukan seorang Muslim. Banyak perang dimasa silam yang dihadapi kaum Muslim, oleh karenanya, adalah normal dan wajar jika kita menemukan sejumlah ayat-ayat dalam al-Quran yang menceritakan masalah peperangan. Namun pesan utama dari al-Quran adalah kedamaian, seperti teredaksi dengan jelas di ayat al-Baqarah 2:190, 8:61 dan 5:28 diatas.

2-Hukum perang dalam Islam:

Kaum Muslim dilarang keras menyerang kaum yang tidak memerangi:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (al-Quran, 2:190)“

Perangilah atas nama Allah Ta’ala mereka yang memerangi kita itulah makna “Jihad” sebenarnya! Saya tidak bisa begitu saja membunuhi nonMuslim hanya karena mereka nonMuslim, hal ini sama-sekali dilarang Allah SWT:

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi. (al-Quran, 5:32)“

“ Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, (The Noble Quran, 25:68-69)“

Jihad hanya boleh dideklarasikan jika kaum Muslim diserang terlebih dahulu. Sebaliknya kami tidak diperkenankan memerangi mereka yang berdamai. Bahkan apabila perang terjadi, jika musuh menawarkan perdamaian, maka kita diwajibkan untuk menerimanya dan mengakhiri pertumpahan darah:

“ Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al-Quran, 8:61)“

Dan jika perjanjian damai dibuat, maka kita wajib menghormati pernjanjian tersebut dengan praktek, bukan hanya dimulut:

“Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka. (al-Quran, 4:90)”

“Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil haraam? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (The Noble Quran, 9:7)“

Sabtu, 08 Mei 2010

MASUKNYA SETAN KE DALAM TUBUH MANUSIA






*

Dalam keadaan sangat ketakutan
*

Dalam keadaan sangat marah
*

Dalam keadaan sangat lalai
*

Dalam keadaan gejolak nafsu syahwat

GANGGUAN SIHIR

Sihir adalah Ilmu setan74 yang harus diwaspadai oleh setiap manusia karena begitu banyak kehancuran hidup manusia yang disebabkan oleh sihir75. .Ada sihir yang sengaja dilakukan oleh setan sendiri dan ada juga yang dilakukan oleh setan atas permintaan ahli sihir. Ada berbagai macam sihir dan yang akan ditulis di sini hanyalah sihir yang berkaitan dengan maksud dan tujuan buku ini. Dikembangkan dari buku berjudul �SIHIR DAN PENGOBATANNYA SECARA ISLAMI� karya Syaikh Wahid Abdusalam Bali. diterbitkan oleh Robbani Press

1.

Sihir Perceraian. Macam-macamnya :

*

Pemutusan hubungan antara seseorang dengan ibunya
*

Pemutusan hubungan antara seseorang dengan bapaknya
*

Pemutusan hubungan antara seseorang dengan saudaranya
*

Pemutusan hubungan antara seseorang dengan temannya
*

Pemutusan hubungan antara seseorang dengan mitranya dalam perdagangan atau lainnya76
*

Pemutusan hubungan antara seseorang dengan istrinya. Jenis ini paling berbahaya dan paling banyak tersebar

Gejalanya :

*

Berubahnya keadaan secara mendadak, dari cinta menjadi benci
*

Banyak terjadi saling meragukan antar keduanya
*

Tidak meminta maaf
*

Memperbesar sebab perselisihan, sekalipun sangat sepele
*

Terbaliknya gambaran seorang suami di mata istrinya atau sebaliknya. Sehingga suami melihat wajah istrinya sangat jelek, sekalipun sebenarnya termasuk wanita paling cantik. Pada hakikatnya setan yang melakukan sihir itulah yang tergambar di wajahnya dalam rupa yang jelek. Demikian pula sang istri, melihat suaminya dalam wajah yang menakutkan.
*

Orang yang tersihir membenci setiap perbuatan yang dilakukan pihak lain (pasangannya, mitra kerjanya, teman satu Geng-nya, dsb)
*

Orang yang tersihir membenci tempat tinggal pihak lain, misalnya istri melihat suami di luar rumah dalam keadaan jiwa yang baik tetapi ketika masuk rumah, dia merasa sumpek berat

2.

Sihir Gila77. Gejalanya :

*

Melantur, bengong dan lupa berat
*

Kacau dalam pembicaraan
*

Mata melotot
*

Tidak bisa tenang di suatu tempat
*

Tidak bisa melanjutkan pekerjaan tertentu
*

Tidak memperhatikan penampilan (cuek)
*

Dalam keadan-keadaan berat, pergi berjalan tidak tahu ke mana dan kadang-kadang tidur di tempattempat sunyi

3.

Sihir suara panggilan. Gejalanya :

*

Mimpi-mimpi menakutkan
*

Mimpi seolah-olah ada orang yang memanggilnya78
*

Mendengar suara-suara yang berbicara kepadanya dalam keadaan jaga tetapi tidak melihat orangnya
*

Banyak was-was atau keraguan
*

Banyak meragukan teman dan orang-orang yang dicintainya
*

Mimpi seolah-olah akan jatuh dari tempat yang tinggi
*

Mimpi melihat binatang yang mengejarnya

4.

Sihir Lesu. Gejalanya :

*

Suka menyendiri
*

Menutup diri sepenuhnya
*

Diam terus
*

Tidak suka berbagai pertemuan
*

Pikiran melantur
*

Selalu pusing
*

Selalu santai, lelet dan lesu

MANUSIA DAN SETAN





Allah SWT. Menciptakan manusia sebagai makhluk yang sangat sempurna baik jasmani maupun rohaninya. Akan tetapi kesempurnaan tersebut bisa berubah menjadi sebaliknya yaitu suatu kondisi yang penuh dengan hina, tatkala Iman yang ada dalam dada tidak terpelihara.



Informasi ini oleh Allah SWT. Diabadikan di dalam kitab suci Al-Qur�an, yaitu sebuah kitab akhir zaman yang diturunkan Tuhan, yang tak ada keraguan padanya sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa.



Artinya:



Demi pohon Tiin dan pohon Zaituun,

Demi bukit Tursina dan negeri Mekah yang aman sentosa,



Sesungguhnya manusia itu kami ciptakan dalam keadaan sangat sempurna, setelah itu kami kembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya dalam keadaan hina, kecuali orang-orang yang beriman, yang beramal Sholeh dan yang berbuat baik antar sesama, bagi merekalah pahala yang tiada putus-putusnya.



Apakah sebabnya sehingga kamu dustakan hari pembalasan itu?



Bukankan Allah itu hakim yang seadil-adilnya? (QS At-Tiin: 1-8)



Peringatan Allah dalam surat At-Tiin tersebut menyadarkan kepada kita semua, bahwa manusia itu sebenarnya dicipta dengan sebaik-baik bentuk dan rupa, baik jasmani maupun ruhaninya. Tetapi yang harus lebih disadari adalah bahwa keadan tersebut tidak menjamin seterusnya baik, karena akan terjadi keadaan sebaliknya yaitu manusia menjadi buruk, hina dan nestapa, karena ia tidak lagi dapat memelihara amanat Allah untuk menjaga dirinya, lantaran ia kalah berperang dengan musuh lamanya (setan yang terkutuk)



Benarkah setan itu musuh manusia yang beriman?



Firman Allah SWT :



Artinya :



�Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka dari itu perlakukanlah ia sebagai musuhmu, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala� (QS. Fathir : 6)



Mengapa setan70 harus kita perlakukan sebagai musuh yang nyata?



Sebab setan sudah berjanji kepada Allah SWT. Semenjak pertama kali Allah menciptakan manusia. Mereka (setan dan Iblis) serta semua anak keturunannya akan secara aktif mengganggu dan menggoda manusia dari segala jurusan, agar manusia terpedaya oleh bujukannya dan manusia akan menjadi pengikutnya untuk menemaninya di dalam neraka dalam siksaan yang sangat pedih (na�udzubillah).



Perhatikan �sejarah� singkat berikut ini, bagaimana mereka akan mengganggu manusia. Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah dan surat Al-A�raaf, yang artinya :



�Ingatlah ketika kami berfirman kepada para Malaikat :



Tunduklah kamu kepada Adam, lalu tunduklah mereka, kecuali Iblis. Ia menentang dan menyombongkan dirinya, dan ia termasuk golongan yang kafir.



Kami berfirman : Hai Adam, diamlah kamu di Syurga ini beserta istrimu, dan makanlah sepuas hati kalian, namun jangan kalian dekati pohon ini, sebab nanti kalian akan tergolong orang yang dzalim.



Lalu keduanya terpedaya oleh setan, dan keduanya mengikuti perintah setan, sehingga keduanya tersingkir dari tempat di mana mereka kini berada.



Kami berfirman : Turunlah kalian, sebagian dari kalian akan menjadi musuh bagi yang yang lain, dan untuk kalian tempatnya adalah di bumi itu, tempat kediaman dan kesenangan sampai batas waktu yang ditentukan � (Al-Baqarah : 34-36)



Artinya :



�Sesungguhnya kami telah menciptakan kamu Adam, lalu kami bentuk tubuhmu, setelah mana kami perintahkan kepada Malaikat, �Sujudlah ! kalian kepada Adam�, maka mereka pun sujudlah kecuali Iblis, dia tidak termasuk dalam golongan mereka yang mau bersujud.



Allah berfirman : �Apakah keberatanmu untuk bersujud kepada Adam, ketika Aku menyuruhmu? Iblis menjawab : �saya lebih baik dari padanya, Engkau menciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah�



Allah berfirman : �Turunlah kamu dari syurga ini, tidak sepatutnya kamu menyombongkan diri, sebab itu keluarlah kamu, sesungguhnya kamu termasuk golongan yang hina.



Iblis menjawab : �beri tangguhlah aku, sampai mereka dibangkitkan. Tuhan Berfirman : �kamu diberi tangguh!� Iblis menjawab : �karena Engkau telah menetapkan aku menjadi makhluk sesat, aku bersumpah untuk menghalang-halangi mereka dari jalan-MU yang lurus, kemudian aku memperdayakan mereka, dengan mendatanginya dari muka, belakang, dari kanan dan kiri. Dan Engkau tidak menemuinya lagi, bahwa mereka sebagai golongan orang yang bersyukur.



Tuhan Berfirman : �Keluarlah kamu dari syurga itu, sebagai orang yang hina dan terusir. Bagi mereka yang mengikuti kamu, betul-betul akan aku isi neraka Jahanam dengan kalian semua� (QS. Al-A�raf : 11-18)



Iblis adalah makhluk yang sombong dan pembangkang, ia merasa lebih tinggi daripada manusia ciptaan Allah, padahal malaikat yang terdiri atas cahaya pun mereka patuh pada perintah Allah untuk menghormati manusia.



Satu hal yang perlu diperhatikan dari informasi Al-Qur�an tersebut adalah bahwa iblis/setan akan bersikap superaktif untuk menggoda dan menghalangi manusia dari jalan yang lurus (kebenaran).



Kalau hal ini tidak disadari oleh manusia (orang beriman), maka manusia sudah kalah satu langkah yang akhirnya akan terperosok dalam kelompok mereka yang diancam Allah dengan adzab yang sangat pedih.



Karena setan sudah bergerak untuk selalu menghalangi jalan lurus manusia, bahkan dari arah muka, belakang, kanan dan kiri, maka tidak ada kata lain bagi orang beriman, mereka pun harus aktif untuk terus berupaya lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.



Kalaulah pernyataan setan tersebut, bahwa ia akan menggoda dari arah Horisontal (muka, belakang, kanan, kiri), maka arah yang Insya Allah tak akan terbendung oleh setan adalah arah Vertikal, karena pernyataan setan tersebut dari arah Horisontal saja. Dengan demikian, barangsiapa yang arah vertikalnya baik, yaitu : shalatnya terpelihara, puasanya karena Allah semata, do�anya khusyu�, sujud dan rukuknya tawadhu, hatinya ikhlas, jiwanya tenang, pendiriannya teguh, tak ada yang dia takuti kecuali Allah SWT., maka niscaya setan tidak akan mampu menggoda orang semacam ini.



Pertanyaan berikutnya yang harus kita jawab adalah :



Mengapa manusia sering kalah dalam berperang dengan setan sebagai musuhnya yang sudah nyata itu?



Jawab : sebab, arah vertikal manusia tidak terpelihara.



*

Kebanyakan manusia tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mereka tidak lagi dapat memisahkan mana yang haq dan mana yang bathil, karena hatinya tertutup oleh nafsunya.

*

Kebanyakan manusia imannya tertanggal ketika ia pergi, imannya turun ketika prestasinya naik, imannya berkurang ketika rejekinya bertambah, dan imannya tidak ikut serta ketika ia menghadapi setiap persoalan dalam hidupnya.

*

Kebanyakan manusia tidak yakin kalau sebenarnya Tuhan itu sebagai Rabbun Naas, yang selalu menyertai manusia ke mana saja ia pergi dan selalu mengawasi manusia di mana saja ia berdiri. Kebanyakan manusia tidak yakin bahwa sebenarnya Allah itu dekat. Sebenarnya yang membuat seseorang jauh dari Allah itu, karena perbuatan manusia itu sendiri. Semakin sering seseorang berbuat yang dilarang oleh Allah, maka semakin jauh ia dari-NYA. Sebaliknya semakin sering seseorang melakukan �perjalanan� kepada-NYA dengan khusyu dan semakin sering ia melakukan amal perbuatan yang diperintahkan-NYA, maka semakin dekat ia kepada Dzat yang dicintanya tersebut, dan setan pun tidak akan berani mengganggunya, Insya Allah..

Manusia yang kalah dalam peperangan melawan musuh bebuyutannya ini, ia akan terjerumus dalam lembah yang gelap, yang menyesatkan, inilah yang harus diwaspadai oleh setiap hamba Allah yang selalu menginginkan hidupnya bahagia.

Terapi Menjalani Islam Secara Kaffah baik Sukarela maupun terpaksa demi kesehatan dan kesuksesan



Larangan-larangan agama bila dijauhi dan dihindari oleh manusia, niscaya ia akan selamat dan terhindar dari kecelakaan serta kerugian. Perintah-perintah Agama merupakan obat penyembuhan. Sedangkan larangan larangan agama merupakan pencegahan dari penyakit. Firman Allah SWT. : katakanlah, �Hai Manusia, sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu (Al-qur�an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatan itu mencelakakan dirinya sendiri�.



Iman dan Amal Sholih adalah gaya hidup sehat terbaik, dan hanya ini satu-satunya jalan selamat. Semakin rusak sistem kekebalan tubuh kita, semakin butuh Iman dan Amal sholih terutama di jaman yang kini penuh dengan ancaman bagi kesehatan. Menomor satukan pendidikan Iman dan amal sholih kepada anak kita, berarti kita membekali anak kita dengan bekal yang akan menjaganya di masa depan, masa yang lebih parah dari sekarang. Hanya petunjuk Allah dan Rosulnya yang dapat kita yakini kebenarannya 100 % dan kita tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada Al-qur�an dan Hadist.



Allah SWT berfirman : Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari kasih sayang Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya�.



Mari kita saling mengingatkan untuk melanjutkan hidup dengan Iman dan Amal Sholih selagi masih dapat ditolong sebelum menderita penyakit yang lebih parah, sebelum Narkoba menghancurkan segalanya, sebelum terkena infeksi Oportunistik, sebelum Musibah yang lebih dahsyat melanda, sebelum ajal tiba.



M.Y.T menulis : Dalam hukum Islam, orang yang mencuri dipotong tangannya. Rasa iba yang bersumber dari bisikan setanlah yang merasa bahwa itu merupakan hukuman yang tidak manusiawi. Akhirnya kasus pencurian ada di mana-mana dan orang yang tidak menyetujui hukuman potong tangan tersebut pun hidup dalam ketakutan ketika di sekelilingnya tidak ada lagi ketentraman. Terlebih ketika hartanya dicuri orang, dia lapor Polisi agar si pencuri dihukum seberat mungkin yang jika dibandingkan, lebih berat dari hukuman potong tangan; bahkan senang mendengar si pencuri dibakar massa atau mati ditembak polisi.



Begitu pula anak gadis harus segera dinikahkan. Orang-orang yang tidak mengerti memandangnya sebagai hal yang tidak baik sampai-sampai mereka mempropagandakan pandangan keliru mereka melalui lagu dan sinetron Pernikahan dini. Akhirnya ketika anak gadisnya hamil di luar nikah, para orang tua tertunduk malu dan menangis sedih membayangkan kehancuran masa depan anaknya.



Johanes Lim, Ph.D menulis dalam No Pain No Gain �Metode Sukses Pribadi dalam studi, karier, dan bisnis� : Paling bagus adalah jika hukum mau menindak pelaku kejahatan dengan hukuman berat agar mereka kapok, dan itu bisa mencegah niat orang untuk berbuat jahat. Sebab jika hukumannya ringan - apalagi jika bebas dengan sogokan uang - akan memicu orang untuk berbuat kejahatan lagi!�.



Sementara itu Daniel Goleman Ph.D dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelligence, mengomentari masalah ini. Beliau menulis : Selama sepuluh tahun terakhir, orang telah memaklumkan �perang� secara bergiliran: perang terhadap kehamilan remaja, perang terhadap putus sekolah, perang terhadap narkotika, dan yang paling akhir perang melawan tindak kekerasan. Namun, kesulitannya adalah perang itu datangnya terlambat, setelah mewabah dan berakar kuat dalam kehidupan anak muda. Perang itu cuma campur tangan darurat, sama saja dengan menyelesaikan masalah mengirim ambulans untuk menyelamatkan, bukannya lebih dulu memberi vaksinasi yang dapat mengusir penyakit. Daripada memaklumkan lebih banyak �perang� semacam itu, yang sekarang kita butuhkan adalah mengikuti logika pencegahan, dengan memberikan anak kita keterampilan menghadapi kehidupan sehingga meningkatkan peluang mereka menjauhi setiap dan semua takdir kehidupan ini�.




Terapi Melihat Kepada Orang yang berada di Bawah



Rasulullah SAW. Bersabda : �Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kalian� (HR.Bukhari dan Muslim). Jika seorang hamba memfokuskan pandangannya pada hal ini, niscaya dia akan melihat bahwa dirinya mengungguli orang lain dalam banyak hal, seperti kesehatan, rizki dan yang lainnya. bagaimanapun keadaan dirinya, Maka akan hilanglah kegelisahan, duka cita, dan Kesedihan, serta akan bertambah kegembiraan dan suka cita atas nikmat-nikmat Allah yang dia lebih unggul dari orang lain yang berada di bawahnya.




Terapi Menyebarkan Salam



Sesungguhnya salam itu merupakan sunnah terdahulu sejak zaman Nabi Adam �alaihi salam hingga hari kiamat, dan salam merupakan ucapannya para penghuni surga, Dan ucapan mereka di dalamnya adalah salam. Salam merupakan sunnahnya para Nabi, tabiatnya orang-orang yang bertakwa dan semboyannya orang-orang yang suci. Namun, dewasa ini, sungguh telah terjadi kekejian yang nyata dan perpecahan yang terang di tengah-tengah kaum muslimin! jikalau engkau melihat mereka, ada saudaranya semuslim yang melintasinya, mereka tidak mengucapkan salam padanya. Sebagian lagi hanya mengucapkan salam hanya pada orang yang dikenalnya saja, bahkan mereka merasa aneh ketika ada orang yang tak dikenalnya menyalaminya, mereka mengingkarinya dengan sembari menyatakan �Apakah anda mengenal saya?�.



Padahal yang demikian ini merupakan penyelisihan terhadap perintah Rasulullah Shalallahu �alaihi wa sallam, sehingga menyebabkan semakin menjauhnya hati-hati mereka, semakin merebaknya perangai-perangai kasar dan semakin bertambahnya perpecahan. Bersabda Nabi Shalallahu �alaihi wa sallam: �Tidaklah kalian akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian dikatakan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian mengamalkannya niscaya kalian akan saling mencintai, yaitu tebarkan salam di antara kalian.� (HR Muslim).



Dalam hadits Muttafaq �alaihi, ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Shalallahu �alaihi wa sallam, �Islam bagaimanakah yang baik?� Rasulullah Shalallahu �alaihi wa sallam menjawab, �Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kau kenal maupun yang tak kaukenal.� (Muttafaq �alaihi). Maka yang demikian ini merupakan suatu anjuran untuk menyebarkan salam di tengah-tengah kaum muslimin, dan bahwasanya salam itu tidaklah terbatas pada orang yang engkau kenal dan sahabat-sahabatmu saja, namun untuk keseluruhan kaum muslimin.



Adalah Abdullah Ibnu 'Umar Radhiallahu �anhu pergi ke pasar pada pagi hari dan berkata : �Sesungguhnya kami pergi bertolak pada pagi hari adalah untuk menyebarkan salam, maka kami mengucapkan salam kepada siapa saja yang kami jumpai.�



Salam itu menunjukkan ketawadhu�an seorang muslim, ia juga menunjukkan kecintaan kepada saudaranya yang lain. Salam menggambarkan akan kebersihan hatinya dari dengki, dendam, kebencian, kesombongan dan rasa memandang rendah orang lain. Salam merupakan hak kaum muslimin antara satu dengan lainnya, ia merupakan sebab dicapainya rasa saling mengenal, bertautnya hati dan bertambahnya rasa kasih sayang serta kecintaan. Ia juga merupakan sebab diperolehnya kebaikan dan sebab seseorang masuk surga. Menyebarkan salam adalah salah satu bentuk menghidupkan sunnah Mustofa Shalallahu �alaihi wa sallam.




Terapi Mengakui Kelemahan



Manusia adalah makhluk yang memiliki banyak kelemahan dan harus selalu terus-menerus berusaha untuk mengatasi kelemahan tersebut. Adanya penyakit yang diderita manusia adalah gambaran paling jelas tentang kelemahan tersebut. Oleh karenanya, ketika seseorang atau sahabatnya jatuh sakit, ia hendaknya berpikir tentang makna yang terkandung dari musibah ini. Ketika sedang berpikir, ia memahami bahwa flu yang dianggap sebagai penyakit yang biasa pun memiliki pelajaran-pelajaran yang darinya manusia dapat mengambil hikmah ataupun peringatan. Ketika terjangkiti penyakit tersebut, ia memikirkan hal-hal seperti: pertama, penyebab utama flu adalah virus yang teramat kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. Akan tetapi, makhluk yang kecil ini sudah cukup untuk membuat manusia yang bobotnya 60-70 kg menjadi kehilangan kekuatan, membuatnya sedemikian lemah sehingga tak mampu berjalan ataupun berbicara sekalipun. Seringkali obat atau makanan yang ia makan tidak membantu meringankan penderitaannya. Satu-satunya yang dapat ia lakukan adalah beristirahat dan menunggu. Dalam tubuhnya, berlangsung sebuah peperangan yang ia tak pernah mampu untuk campur tangan, dengan kata lain ia dibuat lumpuh tak berdaya melawan organisme yang sangat kecil. Dalam keadaan yang demikian, ia hendaknya mengingat ayat Allah:


"(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku,
dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat".


(Ibrahim berdo'a): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orangorang yang saleh". (QS. Asy-Syu'araa, 26: 78-83)



Seseorang yang terjangkiti penyakit apapun hendaknya membandingkan sikapnya ketika sehat dan setelah pulih dari sakit, kemudian berpikir tentang hal tersebut. Seharusnya ia menyadari keadaanya yang lemah ketika sakit, perasaan ketergantungan kepada Allah yang sangat. Hal ini tercermin, misalnya, dalam keikhlasan dan kekhusu'annya ketika berdoa kepada Allah menjelang dioperasi.



Sebaliknya, ketika mengetahui orang lain sedang menderita sakit, ia hendaknya segera bersyukur kepada Allah sambil berpikir tentang keadaannya yang sehat. Manakala melihat orang yang cacat kaki, misalnya, orang beriman memikirkan bahwa kakinya adalah nikmat yang sangat besar dan penting bagi dirinya. Ia memahami bahwa kemampuannya untuk berjalan atau berlari ke manapun serta melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain sejak bangun tidur di pagi hari adalah nikmat dari Allah. Dengan membuat perbandingan seperti ini, ia akan lebih memahami besarnya nikmat yang telah didapatkannya.




Terapi Meminta Maaf, Memaafkan, dan Saling Memaafkan



Siapapun akan mengakui bahwa Meminta Maaf, Memaafkan, dan Saling memaafkan dapat menjadi suatu terapi yang sangat mendasar. Dalam Islam Therapy, orang yang tidak bisa melaksanakan Terapi mendasar ini berarti tergolong menderita psikopatologi yang sangat parah, keras hati, gelisah, durhaka, sombong, indikator kerusakan organ tubuh; sumber mencuatnya banyak masalah baik pada diri sendiri maupun orang lain. Meminta maaf dapat menenangkan jiwa, membuat orang lain merasa dihargai, dan lain sebagainya.



Memaafkan diri sendiri dapat meredam ingatan terhadap kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi yang rentan akan timbulnya berbagai bentuk psikopatologi. Memaafkan orang lain dapat menghilangkan psikopatologi dalam diri seperti menginginkan orang lain harus berlaku sesuai dengan keinginan kita, menuntut kesempurnaan pada orang lain, angkuh dan kekeraskepalaan, dan lain sebagainya. Sedangkan saling memaafkan dapat menyelesaikan semua masalah antara seseorang dengan orang lain, dapat menyatukan kembali hati yang saling membenci, menghapus kesalahan, mewujudkan dunia yang damai dan penuh cinta, semakin mempererat rasa persatuan, ketentraman hati bagi kedua belah pihak, menghancurkan berbagai bentuk psikopatologi, dan lain sebagainya.



Meminta maaflah, maafkanlah, dan saling memaafkanlah karena Saya, Anda, kita, Mereka, Orang tua kita, Teman-teman kita, Presiden, Wakil Rakyat, Pejabat, TNI, Aparat kepolisian, Ulama, Pecandu Narkoba, dan lainlain walau bagaimanapun hanya manusia biasa yang tak bisa luput dari kesalahan, kekurangan, ketidakmampuan, memiliki keterbatasan, mempunyai emosi, mempunyai pendapat dan keinginan pribadi, mustahil bisa berbuat sesuai keinginan semua orang, mustahil bisa membahagiakan semua orang, mustahil mengetahui segala hal, mustahil memiliki segalanya, mustahil mempelajari semuanya, akan selalu ada yang kita kecewakan, masing-masing memiliki masalah yang harus diselesaikan dan terkadang dengan terpaksa menyakiti orang lain, dan lain sebagainya. Apabila di sekitar Anda ada yang berperilaku buruk, pertimbangkanlah tentang adanya psikopatologi dan kelainan fungsi organ pada orang tersebut. Bantulah orang tersebut baik secara moril maupun materil sampai pulih dan jika tidak bisa, maka bantulah dengan tidak menghinanya, membicarakannya, mendo�akan keburukan untuknya, apalagi mengutuknya karena cara-cara seperti ini akan membantu setan membinasakan orang tersebut.



Richard Carlson, Ph.D menulis dalam bukunya yang berjudul Don�t Sweat The Small Stuff at Work (jangan memusingkan masalah kecil di tempat kerja) �Cara Mudah Mengurangi Stres dan Konflik Sekaligus meningkatkan prestasi diri dalam pekerjaan� : Kita manusia, dan menjadi manusia berarti dapat berbuat salah, paling tidak sesekali. Dalam hidup ini Anda akan melakukan banyak kekeliruan, membuat kacau, kehilangan arah, melupakan sesuatu, naik pitam, mengatakan yang tidak pantas, dan masih banyak lagi. Saya tidak pernah mengerti mengapa kenyataan sederhana dalam hidup ini-kecenderungan untuk berbuat keliru-dianggap sangat mengagetkan atau mengecewakan oleh banyak orang. Saya jelas tidak mengerti mengapa itu dijadikan masalah besar. Bagi saya, salah satu kekeliruan yang paling menyedihkan adalah tidak adanya maaf, terutama bagi diri sendiri. Kita terus mengingat-ingat kegagalan dan kekeliruan kita di masa lampau. Kita mengantisipasi kesalahan-kesalahan di masa mendatang. Kita sangat kritis kepada diri sendiri, sering merasa kecewa, dan tidak berperasaan ketika harus menghakimi diri sendiri. Kita mengutuk dan menyalahkan diri sendiri, juga sering menjadikannya musuh yang paling jahat. Saya merasa bahwa tidak bersedia memaafkan diri sendiri adalah perbuatan tolol dan konyol. Hidup tidaklah hadir lengkap dengan buku petunjuk yang langsung terbukti kebenarannya. Kebanyakan di antara kita mengusahakan yang terbaik semampu kita - sungguh. Akan tetapi kita tidak sempurna. Sesungguhnya, kita semua berusaha. Kita belajar dari kesalahan-kesalahan dan dari kegagalan-kegagalan.

ISLAMIC MEDIA
[ http://islamic.xtgem.com ]

Terapi Mengendalikan Nafsu dan Menghindari dosa





Nafsu yang tidak terkendali menyebabkan penyakit yang mengacaukan system syaraf karena dapat mengalahkan pertimbangan rasional. Menyalurkan nafsu syahwat sembarangan dapat mendatangkan penyakit. Perasaan berdosa pun akan mengacaukan system syaraf. Makin besar dosa, diyakini akan menyebabkan kerusakan yang makin hebat. Jadi, dosa akan menyebabkan kerusakan organ tubuh kita walau secara tidak langsung. Dosa yang tidak terampuni mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Kalau ditelusuri makin dalam, ujung-ujungnya, semua penyakit mulanya diakibatkan oleh dosa. Dosa menjadikan jiwa seorang hamba liar dan bingung, tidak menjadikan tentram pada dirinya dan masyarakat di mana dia hidup. Keliaran jiwa yang diakibatkan oleh maksiat menjadikan seseorang asing dengan keluarganya. Manakala kemaksiatan bertambah, maka akan mempengaruhi jiwa manusia, lalu ia merasa asing pada jiwanya sendiri, sebab jiwa diciptakan sesuai dengan fitrah. Fitrah merasa tentram bila menempuh hidup yang sehat dan lurus. Barangsiapa yang mengikuti hawa nafsu, maka ia akan menodai dan merusak fitrahnya. Sementara menentang dan mengendalikan nafsu merupakan solusi dan obat penenang jiwa. Nafsu diciptakan dalam keadaan bodoh dan gelap. Karena kebodohan, nafsu mengira bahwa kunci kebahagiaan adalah mengikuti hawa nafsu, padahal mengikuti hawa nafsu adalah sumber kerusakan jiwa. Mengikuti hawa nafsu akan menyebabkan penyesalan. Setiap penyesalan adalah kedukaan dan kesedihan. Dosa adalah penyakit (Psikopatologi), sedang obat (psikoterapi) nya adalah taubat .



M.Y.T menulis: �Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu sebagai cobaan (kegelisahan, penderitaan, keputusasaan, kemarahan, kehinaan, kebingungan, rasa malu, dsb) bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya� (QS. Al-Hajj : 53) �Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah yang merugi.� (QS. Al-Mujadilah : 19) �Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan (Al-Qur�an). �Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-KU, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit� (QS. Thaha : 124) �Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang membuatnya payah� (QS. Al-Muddatstsir : 17)



Pada akhirnya kita akan sadar, mengikuti setan membuat hati kita hampa, gersang, gelisah, muak, dan sebagainya. Jika kita tidak kembali ke agama, perasaan ini akan dijadikan alasan oleh setan agar kita bunuh diri. Dari sini kita tahu, pada hakikatnya setan turut mengajak manusia agar kembali ke agama dengan caranya. Bahwa jika manusia ingin sukses, bahagia, selamat dari siksaan setan, tentram, dan sebagainya, kembalilah ke Agama. Setan pun turut menghinakan orang-orang yang kafir dengan sebenar-benarnya penghinaan. Mungkin setan merasa terkutuk, padahal -menurut saya- mereka sama mulianya dengan malaikat. Hanya saja malaikat menggunakan jalur kanan (kebaikan, kedamaian, kasih sayang, dsb) sedangkan setan jalur kiri (keburukan, kekacauan, kebencian, dsb) dengan tujuan yang sama; mengarahkan manusia kembali ke agama. Andaikan setan tidak dalam keadaan mabuk, mungkin mereka akan menangis terharu mengetahui hal ini. Namun bisa jadi setelah mengetahui hal ini, mereka akan jauh lebih menyengsarakan orang kafir sebagai cara mereka beribadah kepada Allah.



Akhirnya kita sadar, bahwa Allah menggerakan semua makhluk untuk melayani manusia dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Manusia dihormati karena betapa lemahnya mereka. Jika Allah tidak memerintahkan semua makhluk untuk menghormati manusia, tentu dari dulu kita sudah punah. Semut yang kita injak tanpa sedikit pun rasa bersalah akan membalas dendam dan kita pasti ketakutan. Burung-burung yang kita tembak akan memanggil seluruh teman-temannya untuk melakukan pembalasan. Tikus-tikus putih yang disiksa dan dijadikan korban eksperimen, akan marah dan memanggil ratusan juta tikus untuk membunuh kita. Membayangkannya saja sudah cukup membuat nyali kita menciut!. Penting diingat, berapa jumlah unggas yang kita bakar hidup-hidup terkait wabah Flu burung? Betapa manusia itu makhluk yang sangat biadab! Tentunya jika tidak ada perintah menghormati manusia, mahkluk Tuhan yang lain akan membantai kita.



M.Y.T pun menjelaskan bahwa Tipudaya dan perangkap setan untuk menghancurkan hidup manusia ada di mana-mana namun tipudaya dan perangkap mereka hanya bisa menjerat orang yang tidak mengikuti petunjuk
Allah dan menjauhi larangan-NYA. orang yang baik, taat beribadah, dan beriman tidak ada yang suka masuk diskotik, tidak suka musik, Pub, dan tempat maksiat lainnya yang penuh dengan tipu daya dan perangkap agar
hidup kita hancur. Orang yang patuh terhadap ajaran agama Islam akan selamat dari tipu daya apapun; bahkan saya berpendapat bahwa dunia ini-terutama abad sekarang- adalah neraka bagi orang-orang yang tidak beriman dan surga bagi orang beriman. Orang yang beriman hidup tentram, fisik & psikis sehat- jika sakit pun merupakan penggugur dosa, dan sebagainya sedangkan sabar dan syukur merupakan cara yang tepat untuk dijadikan solusi . Orang kafir hidup resah, fisik & psikis error, penuh dengan ketakutan, penderitaan, takut miskin, tidak sabar, tidak pernah merasa puas, takut mati, diliputi oleh tipudaya; bahkan tidak dapat menikmati makanannya karena setan membuat pikirannya melayang-layang kesana-kemari- ingat ini ingat itu-, tergesagesa ketika sedang makan dan sebagainya. Mengeluh, putus asa, marah, menjadikan penderitaannya semakin berlipat ganda.



Kebanyakan orang-orang memahami bahwa setan hanya menghancurkan kesuksesan akhirat manusia padahal-menurut pendapat saya- segala yang bisa menjadikan manusia sukses, sehat, bahagia, tentram, berprestasi, dan lain sebagainya baik di dunia maupun di akhirat akan setan hancurkan sekali pun menggapai kesuksesan dan kebahagiaan di jalan yang tidak diridhai Tuhan. Contohnya seorang musisi yang telah bersusah payah membangun karir selama 30 tahun reputasinya hancur dan dipenjara akibat mengkonsumsi narkoba. Atau, banyak sekali group musik yang bubar karena perselisihan antar anggota; bahkan tidak sedikit yang bunuh diri. �Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia� (QS. Al-Isra : 53). Perlu kita ingat bahwa keributan lebih sering terjadi di tempat maksiat antar pelaku maksiat, bukan di tempat ibadah. Wallahu a�lam. Dalam bukunya yang berjudul �Ilmu Jiwa Agama�, Prof. DR. Zakiah Daradjat, menulis: �Rupanya orangorang yang gelisah, yang di dalam dirinya bertarung berbagai macam persoalan, yang kadang-kadang dia merasa tidak berdaya menghadapi persoalan atau problema itu mudah mengalami konversi Agama.



Di antara ketegangan batin yang dirasakan orang, ialah tidak mampunya ia mematuhi nilai-nilai moral dan Agama dalam hidupnya. Ia tahu bahwa yang salah itu salah, akan tetapi ia tidak mampu menghindarkan dirinya dari berbuat salah itu, dan ia tahu mana yang benar, akan tetapi tidak mampu berbuat benar. Itulah sebabnya maka kadang-kadang kita mendengar seorang penjahat besar, pencuri, perampok dan pelanggar susila, memberi nasihat, seolah-olah ia orang yang betul-betul baik. Dan tidak jarang pula kita melihat Pemain-pemain Judi dan wanita pelanggar hukum, yang dengan segala dalih dan alasan menentang ajaran Agama, mengejek Pemimpin-pemimpin, bahkan berusaha mencelakakan mereka. orang-orang itu kadang-kadang sadar bahwa dalam dirinya sedang berkecamuk aneka persoalan yang tak dapat dihadapinya, tapi banyak juga yang tidak sadar, bahwa dalam dirinya ada konflik yang terpendam di alam ketidaksadarannya.



Sesungguhnya dalam literature barat pun, kita menemukan adanya konversi Agama yang mendalam, seperti yang dikemukakan oleh William James, dalam bukunya �The Varietes of Religious Experience� beberapa contoh seperti kasus Stephen H. Brodhy, Joseph Aline dan lain-lainnya, yang berubah dari acuh tak acuh terhadap Agama, menjadi Penganjur yang ulet. Di samping itu sering pula terasa ketegangan batin, yang memukul jiwa, merasa tidak tentram, gelisah, yang kadang-kadang terasa ada sebabnya dan kadang-kadang tidak diketahui.



Belakangan ini tidak sedikit orang yang merasa gelisah dan sangat cemas oleh kegoncangan suasana keluarga, hubungan suami dan istri menjadi retak dan pecah, karena salah satunya tidak setia dan ada yang disebabkan karena putus asa dalam mendidik anak, serta banyak lagi kekecewaan-kekecewaan yang menyebabkan jiwa tertekan dan kadang-kadang menjadi kebingungan tidak tentu apa yang akan dilakukan. Dalam kepanikan atau kegoncangan jiwa itulah kadang-kadang orang terangsang melihat orang sembahyang, atau kebetulan mendengar uraian Agama yang seolah-olah tepat menjadi penyelesai dari problema yang dihadapinya. Dalam bingung haus akan ketentraman batin terdengar adzan shubuh mengalun di udara, hatinya merasa tertarik, ingin merasa tentram, merasa diampuni dan dirangkul oleh kasih sayang Allah SWT�.



Ibnul Qayyim : � Bisa jadi pengetahuan manusia tentang ilmu telah sempurna. Tetapi tidak cukup hanya dengan ilmu pengetahuan saja. Ada syarat lainnya; yaitu hati harus bersih sehingga siap menerima kebenaran. Keadaan hati manusia, apabila banyak berbuat dosa dan maksiat, hatinya menjadi kotor. Setiap melakukan perbuatan maksiat, hatinya akan ternoda dengan noda hitam. Bila ia berbuat maksiat lagi, maka akan bertambah lagi noda hitamnya tersebut, dan begitu seterusnya, sehingga hatinya menjadi pekat, sehingga ia tidak lagi bisa membedakan antara kebenaran dan kebathilan. Karena hati yang kotor akan senantiasa menuruti syahwat dan hawa nafsunya. Oleh karena itu hati harus senantiasa dibersihkan dengan banyak istighfar, meninggalkan maksiat, beramal shalih, sehingga hati kita menjadi bersih dan lapang dalam menerima kebenaran�.



Siapa saja yang membaca, menghayati, dan mendalami sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. dengan seksama dan menyeluruh, maka ia akan mengetahui bahwa beliau diturunkan ke dunia ini untuk menghancurkan kebatilan, mengusir kesuntukan, kegelisahan, kesedihan dan kecemasan, serta membebaskan jiwa dari tekanan keragu-raguan, kebingungan, kegundahan dan keguncangan. Bersamaan dengan itu, beliau juga diutus untuk menyelamatkan jiwa manusia dari segala bentuk hawa nafsu yang membinasakan. Maka begitulah, betapa banyaknya karunia Allah yang telah dianugerahkan kepada manusia.

Minggu, 02 Mei 2010

Living a Healthy Life in Islam



The religion of Islam has always emphasized the importance of health and wellness. For centuries, Muslims have recognized the value of living a well-rounded, clean and healthy life. For
these reasons alone, the Islamic religion and culture has instilled great values of taking care of the mind, body, and spirit in order for the Muslim to fulfill the obligations placed on them by Allah, the Lord of the Worlds.

We will take a closer look at how the Muslims attempt to stay healthy and purified, the forbidden aspects of the religion, and medicinal practices within the religious culture.

Health is considered a great blessing of Allah and also a trust from the Almighty God (A'dab-e-Zindagi, 2007:15). Muslims strongly believe that health is important, for if one was unhealthy, then they would not have the ability to continue to do good deeds. Muslims have strong faith in the Almighty Allah. They believe that they must do good deeds in this life, by doing charitable works, taking care of their family, building a strong Islamic community, and most importantly worshiping Allah, so that they may abide in the eternal abode of Paradise.

Testifying there is only One God and Muhammad (peace be upon him) is the servant of God, the continuous prayers 5 times daily, the paying of charity, the fasting during the month of Ramadan, and the rigorous visit to perform Hajj at Mecca, all constitute a healthy lifestyle if these 5 pillars are going to be fulfilled. If the Muslim is unable to fulfill these obligations due to an illness, these pieces of the faith may be hard or impossible to accomplish.
Since morality, reason, knowledge, and faith are basic elements of the human life, Muslims must take care of their health in order to maintain a healthy growth within these departments. They are encouraged to be
cheerful, glad, alert and active. (A'dab-e-Zindagi, 2007:15). Ways to attain this inner and outer happiness is through worship of the one true God, Allah and doing what He has ordained on mankind. Man is encouraged to live a simple and moderate lifestyle. Over excess has the tendency to cause men to become stressed and overworked. Even during worship a person should not push themselves to the limit where they are unable to perform and carryout their religious act. According to a hadith, the Holy Prophet Muhammad (peace be upon him) once saw an old man who was dragging and supported on either side by two of his sons. The Holy Prophet (peace be upon him) inquired: "What has happened to this old man?" The people told him: "The man had vowed to travel to the House of Allah (Masjid) on foot." The Holy Prophet (peace be upon him) observed: "It is not the will of Allah that this old man should torment himself" and then urged the old man to ride towards his destination. (A'dab-e-Zindagi, 2007:16). From this hadith, Muslims must take into consideration that tormenting oneself is not favored and that one should take the easy route if they are in a weak state in order to avoid hurting the body.

Cheerfulness, happiness, and modesty are characteristics of a healthy and righteous Muslim. Smiling is an outward expression, which shows one's happiness to others. That is why smiling is strongly recommended by people in Islam and is also looked upon a being a charitable act. Hazrat 'Abdullah bin Harith (may Allah have mercy on him) reported: "I never met a man who smiled more often than the Prophet of Allah (peace be upon him)."(A'dab-e-Zindagi, 2007:16). Since Muslims are expected to follow the ways of the Holy Prophet (peace be upon him), they must do their best to smile as much as possible in order to reap the rewards and benefits of Allah on the Day of Judgment.

The Elegant Hijab




The pea is a splendid plant. It proudly displays its strong green Hijab. It protects it from the hot and cold weather and guards it from insects. Allah has blessed the pea with a special Hijab, because without it, the seeds would scatter, dry up and die.
The orange keeps itself within its shiny orange Hijab to protect its delicious fruit. Otherwise it loses its taste too.
So are the banana, the coconut and the pomegranate. Each one has an elegant and unique Hijab, which protects it from disease and destruction.
The jewel of the sea, the pearl, has been given a very tough and rugged Hijab - oyster shell. It protects it from sea animals and keeps it sparkling and shining inside.

However, the most beloved of Allah in all His creation is the Muslim girl who wears the Hijab. She knows it is a gift from Allah. It protects her from harm, injury and mischief. She wears it knowing it gives her dignity, beauty and respect. So precious she can be that she hides herself beneath her Hijab.

Do you wear a Hijab? Give it a try today

"And say to the faithful women to lower their gazes, and to guard their private parts, and not to display their beauty except what is apparent of it, and to extend their headcoverings (khimars) to cover their bosoms (jaybs), and not to display their beauty except to their husbands, or their fathers, or their husband's fathers, or their sons, or their husband's sons, or their brothers, or their brothers' sons, or their sisters' sons, or their womenfolk, or what their right hands rule (slaves), or the followers from the men who do not feel sexual desire, or the small children to whom the nakedness of women is not apparent, and not to strike their feet (on the ground) so as to make known what they hide of their adornments. And turn in repentance to Allah together, O you the faithful, in order that you are successful" (Al Quran An-Nur:31)

"O Prophet! Say to your wives and your daughters and the women of the faithful to draw their outergarments (jilbabs) close around themselves; that is better that they will be recognized and not annoyed. And God is ever Forgiving, Gentle." (Al Quran Al-Ahzab:59)